untukmu, yang mengatakan takut kehilanganku… takut aku benci lagi padamu… takut kau tak sebaik yang kukira…
Dinda, jujur, pernah kudamba
sosok pendamping
seperti Khodijah
seperti Aisyah…
seperti Fatimah…
seperti Hajar…
namun aku sadar…
aku tak sehebat Muhammad SAW…
tak sesabar Ibrahim…
tak sebrilian Ali RA…
tak sebijak Lukman Hakim…
kini aku hanya serahkan pada Alloh…
jika itu adalah kau, maka aku akan
sangat bersyukur…
kuterima kau apa adanya…
jika kaupun begitu…
namun…
jika itu bukan kau, [...]
Read Full Post »
Surat Buat Isteriku (3)
dulu sebelum menikah,
aku berharap istriku seperti khadijah:
melindungi suaminya kala gemetar ketakutan
dengan hangat selimut kasih
dan dekapan sayang keibuan.
atau seperti Siti Hajar:
meski sendiri ditinggal di gurun kesepian
tapi selalu merajut kesetiaan
dan teguh memegang janji.
atau fatimah az-zahra:
tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan
meski hanya tinggal di rumah kecil
berhiaskan prihatin semata
tapi ternyata,
akupun bukan muhammad Rasulullah
yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya.
atau [...]
Read Full Post »
kututup MS word setelah men-safe tulisanku. kulirik dirimu, istriku, yang bersandar di sandaran tempat tidur, membaca novel “ayat-ayat Cinta”nya Habibiurrahman As-sirazy, hadiah ulang tahun dariku yang kuberikan tadi sore. kulihat jam di dinding kamar tidur kita. setengah sebelas malam. tak sengaja aku menguap, dan buru-buru menutup mulutku dengan tangan. kau melirikku dan tersenyum. “kalo ngantuk bo2′… [...]
Read Full Post »
ku ketik sms, dan kukirim ke HPmu. “yayak telpun boleh? kalo boleh, pindh XL yah. yang murah. kalo nggak ya… met bo2′.”
setengah 11 malam. terdengar rinngtone VIP di HPku berbunyi. XL-nya dia. segera ku telpun.
TUUUUTTT…..TTUUUUTTT…..TUUUUTTT…..
“halo..salamolekom…”
“walekom salam, sayang…” tapi kok suaranya beda? pikirku.
“cari siapa? Nisa yah?” kata suara itu.
“iya. ini Nisa khan? suaranya beda.” kataku curiga sedikit.
“ini [...]
Read Full Post »
Posted in Kisah Hidup on September 4, 2007 | Leave a Comment »
sambil tiduran, aku katakan padamu di telepon.
“kau tahu, kenapa aku memanggilmu rembulan?”
“gak. kenapa? tapi khan aku juga memanggilmu mentari. bukannya emang sudah takdir kalo mentari mengejar-ngejar rembulan?”
“yeeee…. enak aja! tapi kamu suka kaaaan, tak kejar-kejaaar…”
“khan capek kalo kejar-kejaran…dah ah!! bikin ge-er!!”
“ya gak papa. khan bisa kayak film India.”
“huuuuu…”
“hihihihi… kamu tahu? aku rindu kata itu darimu.”
“kata [...]
Read Full Post »