kututup MS word setelah men-safe tulisanku. kulirik dirimu, istriku, yang bersandar di sandaran tempat tidur, membaca novel “ayat-ayat Cinta”nya Habibiurrahman As-sirazy, hadiah ulang tahun dariku yang kuberikan tadi sore. kulihat jam di dinding kamar tidur kita. setengah sebelas malam. tak sengaja aku menguap, dan buru-buru menutup mulutku dengan tangan. kau melirikku dan tersenyum. “kalo ngantuk bo2′… jangan dipaksa… ntar sakit lagi lho…” aku balas tersenyum.
terdengar lagu Glenn Fredly dari speaker yang terhubung ke komputer tuaku. “bersamamu… kulewati… lebih dari seribu malam…” sesaat sebelum aku mematikannya, kau bertanya, “lagu siapa itu?”
“lagunya Glenn Fredly.” kataku. “lagu romantis.”
“lagu melo.” katamu sambil senyum. “tapi bagus…”
“mau dengerin dulu?” tanyaku, tidak jadi mematikan komputer.
“mas belum ngantuk banget khan? bentar yah. dengerin itu dulu.” katamu memandangmu. aku mengangguk dan tersenyum. melihat wajahmu yang indah itu, terasa semua kantukku hilang, sayang…
akhirnya jadilah lagu Glenn Fredly yang berdurasi hampir 4 menit itu (3.54 menit) terdengar dikamar. kau mendengarnya dengan serius. Ayat-ayat Cinta sudah kau tutup, setelah kau sisipi pembatas buku. setelah lagu itu selesai, aku beranjak berdiri dari pinggir tempat tidur dimana tadi aku duduk, bermaksud men-shut down komputer.
“lagu yang romantis. cocok buat dansa.” celetukmu. aku memandangmu lama. kau balas memandangku, dengan tatapan yang bingung. “kenapa? iya khan?” tanyamu bingung. “beatnya cocok…”
segera kuberdiri dan meraih mouse komputer, bukan untuk mematikan winamp, namun justru kembali mem-play lagu “sekali ini saja” dari Glenn tadi.
segera aku menghadap kearahmu,dan membungkuk. jujur aku belum pernah berdansa sebelumnya, dan aku tidak tau seperti apa dansa yang benar, namun menurut referensi yang kudapatkan di film-film romantis yang sering kau lihat (aku juga sering kau paksa untuk melihat, khan?) biasanya sang pria membungkuk sebagai tanda penghormatan sebelum mengulurkan tangan untuk mengajak sang wanita berdansa.
segera kuulurkan tanganku dengan telapak tangan mengarah keatas. “sudikah bidadariku ini menemaniku berdansa?” tanyaku. kau tersenyum. wajahmu memerah, seperti dulu saat menerima bunga dariku, jauh sebelum kita menikah.
“ayo, katanya mau dansa…” kataku sambil tersenyum. jangankan menyambut tanganku, kau malah tertawa malu sambil melempar bantal. tentu saja aku yang tidak siap menerima lemparan itu kebingungan dan kena timpuk pas wajah.
“eh! hihihi… maaf, mas…. mas aneh-aneh, ci…” katamu sambil masih senyum-senyum malu.
aku kembali membungkuk dan mengulurkan tanganku. “ayo donk, dansa…” akhirnya setelah beberapa detik (Glenn sudah nyanyi sampai tengah-tengah) kau beranjak bangun dari dudukmu, dan meraih tanganku. segera aku menarikmu kedalam pelukanku. kau terpekik geli. “aku gak bisa dansa…” bisikmu. “emangnya aku bisa?” kataku pelan. terdengar kau tertawa lirih.
segera kau dan aku mengikuti beat Glenn, mencoba untuk berdansa. “makasih, yah…” kataku lirih, mendekapmu semakin erat, sembari tetap berdansa.
“buat apa?” tanyamu bingung.
“makasih buat segalanya. buat pengertianmu menghadapi orang yang pemarah dan tak sabaran ini… buat kesetiaanmu menjalani hidup bersamaku dalam kesederhanaan yang teramat sangat… buat kesabaranmu menghadapi bayi tua ini… buat semuanya…” kataku.
“iya. bayi jenggotan…hihihi…” katamu, kembali tertawa kecil dalam dekapanku.
“maaf juga…” kataku. “buat apa lagi?” katamu pelan. aku menarik nafas dan berusaha mengeluarkan semua yang menjadi ketakutanku selama ini. “maaf, mas belum bisa membelikanmu baju2 yang bagus… belum bisa membelikan perabotan… perhiasan…” bisikku. terasa mataku berkaca-kaca. “mas udah berusaha… adek dah seneng kok… selama mas terus berusaha, berdoa, dan terus sayang ma adek… terus mendekap adek erat di malam-malam yang dingin…” katamu lirih, namun bagai hujan yang menyejukkan jiwaku yang galau.
“aku sayang kamu…” bisikku, berbarengan dengan selesainya lagu Glenn tadi. kau tersenyum. “lagi.” bisikmu lirih. kurenggangkan pelukanku dan memandangmu. kau tersenyum malu. akupun tersenyum. segera ku-replay lagu tadi, dan sekalian men-set winamp menjadi REPEAT:TRACK. biar sekalian berulang-ulang.
“kok di repeat track?” tanyamu. “oh, nggak usah yah?” tanyaku. “gak papa. malah bagus…” katamu, kembali tersenyum.
segera kuraih tangan kananmu, dan mengecup punggungnya. tanpa kusangka, kau justru yang memelukku erat. kukecup keningmu dan berkata lirih, “aku sayang kamu…” kau tidak menjawab, tapi terasa semakin erat kau memelukku . dan kembali kita berdansa, mengikuti beat pelan lagu Glenn itu, di tengah kamar tidur mungil kita, dalam rumah petak sederhana yang kita kontrak dan huni bersama, dengan cahaya remang bohlam 15 watt, ditemani detak jarum jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas lebih sepuluh menit.
#####################
Bersamamu …
kulewati …
lebih dari seribu malam
Bersamamu …
yang kumau …
namun kenyataan yang tak sejalanTuhan bila masih ku diberi kesempatan
izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
biar cinta hidup sekali ini sajaBersamamu …
kulewati …
lebih dari seribu malam
Bersamamu …
kulewati …
namun kenyataan yang tak sejalanTuhan bila masih ku diberi kesempatan
izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
biar cinta hidup sekali ini sajaTak sanggup bila harus jujur
hidup tanpa hembusan nafasnya.Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
sekali lagi untuk mencintanya…
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini…
Biarkan cinta ini…
Hidup untuk sekali ini saja#####################
terus aku dan kamu berdansa. entah berapa kali winamp mengulang-ulang lagu itu, namun kau belum juga merenggangkan pelukanmu. akupun merasa enggan melepaskan pelukanku.
“biarlah ini berlangsung selamanya, bidadariku…” bisikku. “sama seperti doaku untuk cinta kita…”
dari dalam pelukanku, terdengar suaramu tertahan. “huuu…” terdengar lain. seperti terhambat tangis…
“bidadari nangis, yah…?” tanyaku sambil sedikit merenggangkan pelukan.
“tangis bahagia, sayang…” terdengar jawabmu. “jangan lepas pelukmu…” katamu lagi. segera aku kembali mempererat pelukanku. aku juga bahagia, bidadariku… aku juga bahagia…
050907,111148
(thanks to pak Artja dangan tulisan di webnya yang menginspirasi perasaan romantisku, untuk Glenn Fredly, akan liriknya yang indah, dan untuk dirimu, sayang, yang mau menerimaku… apa adanya…)