Surat Buat Isteriku (3)
dulu sebelum menikah,
aku berharap istriku seperti khadijah:
melindungi suaminya kala gemetar ketakutan
dengan hangat selimut kasih
dan dekapan sayang keibuan.
atau seperti Siti Hajar:
meski sendiri ditinggal di gurun kesepian
tapi selalu merajut kesetiaan
dan teguh memegang janji.
atau fatimah az-zahra:
tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan
meski hanya tinggal di rumah kecil
berhiaskan prihatin semata
tapi ternyata,
akupun bukan muhammad Rasulullah
yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya.
atau [...]
Archive for September 5th, 2007
Surat Buat Isteriku (3)
Posted in Gita Tak Bernada, Kisah Hidup on September 5, 2007 | 1 Comment »
Sekali Ini Saja, aku ingin berdansa bersamamu…
Posted in Kisah Hidup, Lantun Hati on September 5, 2007 | Leave a Comment »
kututup MS word setelah men-safe tulisanku. kulirik dirimu, istriku, yang bersandar di sandaran tempat tidur, membaca novel “ayat-ayat Cinta”nya Habibiurrahman As-sirazy, hadiah ulang tahun dariku yang kuberikan tadi sore. kulihat jam di dinding kamar tidur kita. setengah sebelas malam. tak sengaja aku menguap, dan buru-buru menutup mulutku dengan tangan. kau melirikku dan tersenyum. “kalo ngantuk bo2′… [...]
asyemmm…dikerjain lagi…
Posted in Dunia Kecil, Kisah Hidup, Kisah Lucu on September 5, 2007 | Leave a Comment »
ku ketik sms, dan kukirim ke HPmu. “yayak telpun boleh? kalo boleh, pindh XL yah. yang murah. kalo nggak ya… met bo2′.”
setengah 11 malam. terdengar rinngtone VIP di HPku berbunyi. XL-nya dia. segera ku telpun.
TUUUUTTT…..TTUUUUTTT…..TUUUUTTT…..
“halo..salamolekom…”
“walekom salam, sayang…” tapi kok suaranya beda? pikirku.
“cari siapa? Nisa yah?” kata suara itu.
“iya. ini Nisa khan? suaranya beda.” kataku curiga sedikit.
“ini [...]
Cahaya Bulan
Posted in Lantun Hati on September 5, 2007 | Leave a Comment »
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita katahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku?
kabut tipis pun turun di lembah kasih
lembah Pandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
ketika [...]